Jumat, 14 Maret 2014

Dear Diaries... Part 1


Basicly, aku bukanlah seorang penulis atau bahkan sastrawan. Sebagai manusia yang punya perasaan, aku hanya berusaha mengungkapkan perasaan yang pernah kurasakan saat mengalami suatu kisah dalam hidup dan coba menuangkannya dalam bentuk tulisan.

        Kisah ini kutulis berdasarkan pengalaman terakhir yang kualami dengan seorang lelaki yang menjadi kekasihku dan berakhir setelah menjalani hubungan selama 2 tahun lebih lamanya. Kisah yang membuatku kehilangan semangat hidup dan kepercayaan diri hingga saat ini. Tapi apa mau dikata, manusia hanya bisa merencanakan dan tetap Tuhan yang akan menentukan jalan hidup tiap manusia. Semoga tulisan ini dapat menginspirasi kita semua.


     Awal mula perkenalan itu bermula dari jejaring sosial. Sebut saja Dion (nama samaran). Waktu itu, Dion mengirimkan permintaan pertemanan ke akun facebook milikku, dan akupun menerimanya. Beberapa hari setelahnya kami memulai sebuah obrolan menggunakan akun facebook masing-masing dan mulai saling mengenal satu sama lain. Nampaknya kami cukup senang bisa saling mengenal karena merasa cocok dan nyaman dengan pribadi masing-masing dinilai dari obrolan di jejaring sosial tersebut sehingga obrolan tersebut berlanjut keesokan harinya dan keesokan harinya lagi sampai kami  terbiasa saling menyapa dijejaring sosial, bahkan lama-kelamaan rutinitas tersebut menjadi wajib dilakukan setiap harinya. 
     Memang pada awalnya aku merasa ini cuma sekedar perkenalan biasa, menambah banyak teman merupakan hal yang wajar, apalagi saat itu kami masih duduk di bangku SMA kelas 3, usia remaja yang ingin banyak tau. Pada saat perkenalan aku tau kalau Dion telah memiliki seorang kekasih yang menjadi adik kelas dan satu sekolah dengannya, namun itu tak berarti buatku karena memang aku merasa kami hanya sebatas teman ngobrol di jejaring sosial, tak sedikitpun terlintas difikiranku pada waktu itu bahwa hubungan pertemanan ini akan lebih dekat lagi.
       Namun entah mengapa, mungkin ini jalan Tuhan atau apa aku tak tau. Perlahan namun pasti perasaan itu mulai tumbuh seiring berjalannya waktu dan rutinnya kami mengobrol di jejaring sosial. Tidak dapat kupungkiri bahwa aku merasa nyaman dan cocok saat mengobrol dengannya. Dion sosok yang humoris dan menyenangkan. terlepas dari itu, nampaknya ia juga senang dan nyaman saat mengobrol denganku. Dari situlah kami merasa saling membutuhkan.Tiap hari, tak lengkap rasanya jika aku tak mengobrol dan tau keadaannya. begitupun dengannya, tak lengkap harinya jika tak mengobrol dan mengetahui keadaanku. Mulanya kami hanya melakukan obrolan ringan dan santai, namun entah mengapa obrolan itu berubah menjadi semacam perhatian yang ia tujukan kepadaku dan aku tak tau, mungkin aku terbawa suasana atau memang ini tindakan dari hati, tanpa kusadari aku juga memberikan perhatian kepadanya.
        Kami telah saling mengenal dan saling memberi perhatian, maka tak lengkap rasanya jika kami tak saling bertemu. Dalam sebuah obrolan Dion pun mengajakku bertemu keesokan harinya disebuah warnet yang tak jauh dari rumah yang kebetulan milik omnya sendiri. Akupun menerima ajakannya dan pertemuan pertama terjadi keesokan harinya pada sore hari. Perasaan malu-malu dan salah tingkah sangat jelas terlihat pada wajah masing-masing, namun kami sangat senang akhirnya dapat bertemu dan bertatapan langsung tanpa dibatasi layar komputer seperti saat kami mengobrol di jejaring sosial.
     Sungguh aku tak pernah menyangka hubungan kami akan terus berlanjut sampai sejauh ini. Suatu malam Dion ingin mengantarku ke rumah salah satu teman kelasku di bangku SMA dan aku mengiyakan keinginanya. Waktu itu perasaanku bercapur aduk antara senang, takut, dan cemas. Jujur saat itulah pertama kali aku keluar bersama lelaki pada malam hari dan mengendarai sebuah motor sambil berboncengan. Di perjalanan hatiku makin tak karuan ketika Dion mulai menarik tanganku dan mencoba melingkarkan ke bagian perutnya. Betapa ku merasa ingin menghentikan waktu dan merasakan kenyamanan ini dalam waktu yang cukup lama. Setelah menemui teman sekelasku di bangku SMA, perjalanan kami lanjutkan mengelilingi kota dan menikmati suasana pada malam itu. Akhirnya malam itupun berakhir dengan bahagia. Dan kami semakin rutin bertemu dihari-hari berikutnya.
     Namun aku bersumpah tidak ada maksud untuk egois atau ingin merebut Dion dari kekasihnya. Tanpa kusadari ini semua terjadi begitu saja. Aku telah terbawa perasaanku sehingga aku lupa bahwa ini semua tidak benar. Dion telah memiliki kekasih dan hubungannya juga telah berjalan cukup lama. Saat itu aku tersadar bahwa ini semua harus segera kuhentikan. Aku tak ingin terbawa perasaan lebih dalam lagi. Aku tak ingin menyakiti wanita yang telah menjadi kekasihnya. Bagaimanapun aku juga seorang wanita yang punya perasaan, tak dapat kubayangkan jika aku berada pada posisi wanita itu. Memang rasanya kurang menyenangkan berada pada posisiku saat itu. Sakit rasanya ketika melihat Dion bersama kekasihnya, namun mau bagaimana lagi aku tak berhak cemburu ataupun protes karena aku bukan siapa-siapanya.
       Bukan aku tak berusaha menjauh darinya tapi semakin aku ingin menghidar, semakin kuat perasaan yang kurasakan bahwa aku menyayanginya. Sampai akhirnya aku menyerah, aku tak bisa terus-menerus menyiksa perasaanku seperti ini dan akupun mulai mencarinya lagi. Rupanya Dion juga mulai merasakan perasaan yang sama terhadapku. Disuatu malam saat kami memulai ssebuah obrolan lagi di jejaring sosial, Dion menyatakan perasaannya padaku lewat obrolan itu. Saat itu ia mulai memanggilku dengan panggilan “Sayang”, namun aku tak membalas panggilan yang sama terhadapnya karena aku sadar disisi lain ia telah memiliki seorang kekasih sebelumnya dan pastilah akan hancur hati kekasihnya jika mengetahui semua ini. Mulai saat itulah Dion makin rutin menghubungiku bukan hanya lewat jejaring sosial tapi kami juga mulai rutin berhubungan melalui telepon seluler.
      Seperti kata pepatah, bagaimanapun kita menyembunyikan suatu kebusukan pasti akan tercium juga. Hal yang selama ini selalu aku takutkan pun terjadi. Ternyata kekasihnya mulai mencium adanya penghianatan yang dilakukan oleh Dion. Ia mulai mengetahui hubungan kami dan akupun berusaha untuk kembali menjauhi Dion karena aku merasa ini semua juga karena salahku. Tapi ternyata setelah mengetahui adanya hubungan terlarang antara aku dan Dion, kekasih Dion pun akhirnya memutuskan hubungannya dengan Dion. Betapa aku merasa bersalah atas semua yang terjadi pada hubungan Dion dan kekasihnya namun aku juga tak dapat membohongi perasaanku bahwa aku berharap dapat menjalani sebuah hubungan dengan status yang jelas dengan Dion. Aku tak tau lagi harus bagaimana.
      Aku tau bahwa Dion sangat terpukul dengan kejadian itu. Bagaimanapun ia telah lama menjalani hubungan bersama kekasihnya dan pastilah sulit untuk melupakan begitu saja, ditambah lagi rasa sayang yang masih ada buat sang mantan. Setelah kejadian itu aku sempat putus komunikasi dengan Dion selama beberapa waktu. Perasaan bersalah juga masih terus menghantuiku dan aku juga mengetahui bahwa Dion masih tetap berusaha untuk memperbaiki hubungan seperti semula dengan kekasihnya. Maka musnahlah semua harapanku selama ini, tak ada lagi celah buatku untuk bisa memiliki Dion. Tapi aku sadar ini semua pantas kudapatkan atas apa yang telah kuperbuat selama ini. Hancurnya perasaanku tak sebanding dengan apa yang dirasakan oleh kekasih Dion.
     Setelah beberapa lama aku tak mengetahui kabar dari Dion, suatu saat aku akhirnya mengetahui bahwa  Dion telah kembali lagi bersama dengan sang kekasih. Perasaanku sangat terluka mengetahui semua itu namun aku juga senang melihat mereka bisa bersama lagi. Dengan demikian perasaan bersalahku bisa semakin berkurang.
     Entah mengapa, mungkin juga Dion merasa bersalah terhadapku karena merasa telah melukai perasaanku, ia pun mulai mencariku kembali. Suatu hari, ia merencanakan sesuatu dengan salah seorang temanku. Ia membuat sebuah rencana agar aku bisa bertemu dengannya di rumah salah satu temanku itu. Tanpa rasa curiga sedikitpun, aku datang menemui salah seorang temanku itu dirumahnya, namun tak ku sangka setelah beberapa lama Dion pun akhirnya ada disana. Aku tak bisa menghindar lagi, satu-satunya jalan adalah berbicara dengannya. Pada waktu itu kami berbicara cukup serius, ia mengatakan bahwa ia masih tetap menyayangiku namun mustahil untuk kami bisa bersama. Aku memaklumi perkataan Dion saat itu karena memang tak ada jalan untuk kami bersama dikarenakan Dion telah memiliki kekasih sbelumnya yang telah lama ia kenal yang tak mungkin ia tinggalkan begitu saja demi aku yang hanya sosok baru dalam hidupnya dan aku menyadari semua itu. Sejak saat itu hubungan kami mulai membaik lagi.
     Namun itu semua tak berlangsung lama. Beberapa hari setelah pertemuan itu, aku dan Dion kembali putus komunikasi dan aku tak tau kabar dia lagi. Aku mulai putus asa dan berusaha untuk menghapus perasaan ini, aku berusaha membuka lembaran baru dalam perjalanan hidupku tanpa Dion lagi.
     Beberapa bulan kujalani kehidupan yang cukup berat dan tanpa disadari aku telah lulus menempuh pendidikan di bangku SMA dan siap memulai pengalaman baru di bangku perkuliahan. Saat aku mulai sibuk mengurusi kegiatan awal perkuliahan di salah satu perguruan tinggi swasta, Dion kembali hadir dalam kehidupanku. Namun berbeda dengan sebelumnya. Kini ia juga telah terdaftar sebagai Mahasiswa di salah satu universitas negeri dan dengan status barunya yaitu seorang “single”.
    Tak bisa kupungkiri perasaan dulu yang pernah kurasakan pada Dion sampai saat ini masih ada. Walau begitu tak lantas membuatku kembali berharap pada Dion karena ketakutan akan kembali merasakan kekecewaan masih menghantuiku namun aku tetap berhubungan baik dengan Dion. Pada saat itu Nampaknya hubungan Dion dengan kekasihnya telah benar-benar berakhir dan Dion mulai gencar melakukan pendekatan terhadapku.
     Menjalani masa PDKT selama beberapa minggu saja sudah banyak menguras batinku tapi jujur aku sudah terlanjur menyayanginya sehingga aku bertahan dari semua cobaan itu. Masa PDKT ini cukup tragis bagiku, dia memang punya perasaan yg sama terhadapku tapi perasaan itu masih dibayang-bayangi oleh perasaan kepada sang mantan yang sebelumnya cukup lama ia jalani bersama sehingga sulit untuk bisa tergantikan oleh orang lain, termasuk aku, tapi setelah menjalani masa PDKT itu akhirnya Dion memintaku menjadi kekasihnya. Saat itu aku tak langsung memberikan jawaban kepada Dion, tapi melihat usaha dan kegigihannya untuk mendekatiku bebrapa minggu ini, akhirnya seminggu kemudian aku menerima pernyataan cinta Dion dan kami pun menanggalkan status baru kami pada hari itu.
    Namun bukan berarti masalah akan berakhir setelah dia telah menjadi kekasihku, ternyata masalah yg lebih pelik telah menanti di depan mata. Butuh kekuatan batin yg cukup besar menjalani hubungan ini. Kami menjalani hubungan ini namun bayang- bayang sang mantan masih jelas terasa diantara kami bahkan setelah beberapa bulan menjalani hubungan. Aku tersadar, nampaknya aku hanya dijadikan pelarian sakit hati dan sulitnya melupakan sang mantan. Sungguh betapa hancur hatiku setelah menyadari ini semua. Tanpa sepengetahuanku ternyata dia masih sering menghubungi sang mantan dan berharap agar bisa bersama lagi tanpa memikirkan perasaanku yang telah berada disisinya, menemaninya, dan setia bersamanya selama beberapa bulan belakangan ini. Tapi itulah dahsyatnya kekuatan cinta. Karena cinta yg begitu besar kepadanya aku bertahan walau hati ini telah remuk dibuatnya. Aku bersabar dan terus bersabar menjalani hubungan yang suram ini. Namun sekuat apapun aku bertahan, masalah dan cobaan tak hentinya sampai disitu, bahkan masalah yg lebih besar dan menguras batin terus menghampiriku.
    Tujuh bulan sudah aku menjalani hubungan bersama Dion, perjalanan yang masih singkat tapi terasa seperti menjalani kisah suram bertahun-tahun lamanya yang menguras seluruh kesabaranku terlebih lagi saat aku baru mengetahui jika sang mantan sering membuat janji untuk bertemu dengan Dion tanpa sepengetahuanku. Mungkin inilah kelebihan wanita berzodiak Aries, yaitu aku. Menurut kebanyakan orang, wanita berzodiak dengan lambang domba itu memiliki feeling yang kuat. Kenyataannya memang semua berawal dari firasatku yang tak tenang beberapa hari itu tentang Dion.
      Aku merasa tidak bisa berlama-lama lagi memendam firasat ini yang membuat hatiku tak pernah tenang sehingga akupun mengungkapkan kepada Dion tentang semua yang kurasa mengganjal dalam hatiku. Mungkin Dion mulai mengerti apa yang kurasakan dan mulai terbuka kepadaku tentang semua yang terjadi dan jawaban atas berbagai tanda tanya dalam hatiku selama beberapa hari ini.
     Betapa aku tak berdaya setelah mendengar semua pengakuan Dion. Perasaanku sungguh bercampur aduk tak karuan serasa ingin lenyap. Ternyata sang mantan memberikan satu kesempatan kepada Dion untuk bisa kembali bersamanya lagi. Ia memberikan kesempatan berfikir kepada Dion kurang lebih sebulan lamanya untuk mengambil keputusan apakah Dion ingin memulai kembali hubungan dengannya atau ingin tetap bersamaku. Memang tak bisa aku pungkiri betapa hancurnya hatiku saat itu, tapi disisi lain akupun harus tegar menghadapi semua ini. Bagaimanapun rasa bersalahku terhadap Dion dan sang mantan masih terbayang hingga saat ini. Aku merasa sebagai penyebab utama perpisahan mereka dahulu. Disamping itu, aku merasa Dion pun belum bisa menghilangkan rasa terhadap mantannya, terlebih lagi sang mantan yang telah terang-terangan mengharapkan Dion bisa kembali padanya.
      Dengan berbagai pertimbangan itulah aku merasa harus mulai berusaha mengikhlaskan Dion. Sebesar apapun rasa sayang dan cintaku pada Dion, tak akan ada  gunanya bila rasa sayang dan cinta Dion hanya untuk orang lain. Walau terasa berat, kukatakan pada Dion bahwa aku mengikhlaskan ia untuk kembali bersama sang mantan karna bagaimanapun aku tak bisa memaksakan hati dan perasaan seseorang. Selama mereka masih saling memiliki rasa terhadap satu sama lain, dosalah aku jika harus jadi penghalang mereka untuk bersama. Maka dengan menghela nafas panjang aku ikhlaskan mereka untuk kembali bersama.
      Namun sungguh hal yang tak kuduga ketika Dion memutuskan untuk ingin tetap bersamaku dan mencoba melupakan sang mantan yang sangat mengharapkan dirinya. Entah apa yang ada difikiran Dion sehingga ia mengambil keputusan seperti itu. Tapi apapun itu, rasa senang dan syukurku tak dapat kusembunyikan walaupun disisi lain aku juga merasa iba kepada sang mantan. Bagaimanapun aku juga seorang wanita. Aku bisa merasakan betapa hancur dan sakitnya perasaan jika berada pada posisinya. Tapi aku berusaha mengambil sisi positif dari semua ini bahwa inilah kehidupan. Manis dan pahitnya kisah adalah bagian dari perjalanan hidup. Baik buruknya tergantung bagaimana tiap individu menyikapi semua ini. Namun percayalah, Allah telah menyiapkan rencana indah buat kita.



Guys, itulah sepenggal kisah cintaku bersama sang kekasih yang terus dibayangi oleh sang mantan. Jangan kira setelah masalah itu semua akan berakhir bahagia dan sang mantan tidak mungkin lagi akan kembali, aku yakin bayangannya akan terus menghantui hubungan kami sampai kapanpun, percayalah.. Tapi semua itu ku kembalikan lagi kepada Yang Kuasa, kupasrahkan jodoh dan takdirku kepadanya. Sekuat apapun aku menyayangi dan mencintai kekasihku jika Allah tidak menggariskan jodohku dengannya maka mustahil pula untuk bersama. Namun jika jodohku memang adalah dirinya, maka sebesar apapun cobaan yang menerpa hubungan kami, semua pasti akan ada jalan dan penyelesaiannya sehingga akan berakhir dalam ikatan suci pernikahan yang di Ridhai Allah SWT, Insya Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar