Basicly,
aku bukanlah seorang penulis atau bahkan sastrawan. Sebagai manusia yang punya
perasaan, aku hanya berusaha mengungkapkan perasaan yang pernah kurasakan saat
mengalami suatu kisah dalam hidup dan coba menuangkannya dalam bentuk tulisan.
Kisah ini kutulis berdasarkan
pengalaman terakhir yang kualami dengan seorang lelaki yang menjadi kekasihku
dan berakhir setelah menjalani hubungan selama 2 tahun lebih lamanya. Kisah
yang membuatku kehilangan semangat hidup dan kepercayaan diri hingga saat ini.
Tapi apa mau dikata, manusia hanya bisa merencanakan dan tetap Tuhan yang akan
menentukan jalan hidup tiap manusia. Semoga tulisan ini dapat menginspirasi
kita semua.
Awal
mula perkenalan itu bermula dari jejaring sosial. Sebut saja Dion (nama samaran).
Waktu itu, Dion mengirimkan permintaan pertemanan ke akun facebook milikku, dan
akupun menerimanya. Beberapa hari setelahnya kami memulai sebuah obrolan menggunakan
akun facebook masing-masing dan mulai saling mengenal satu sama lain. Nampaknya
kami cukup senang bisa saling mengenal karena merasa cocok dan nyaman dengan
pribadi masing-masing dinilai dari obrolan di jejaring sosial tersebut sehingga
obrolan tersebut berlanjut keesokan harinya dan keesokan harinya lagi sampai
kami terbiasa saling menyapa dijejaring
sosial, bahkan lama-kelamaan rutinitas tersebut menjadi wajib dilakukan setiap
harinya.
Memang
pada awalnya aku merasa ini cuma sekedar perkenalan biasa, menambah banyak
teman merupakan hal yang wajar, apalagi saat itu kami masih duduk di bangku SMA
kelas 3, usia remaja yang ingin banyak tau. Pada saat perkenalan aku tau kalau Dion
telah memiliki seorang kekasih yang menjadi adik kelas dan satu sekolah
dengannya, namun itu tak berarti buatku karena memang aku merasa kami hanya
sebatas teman ngobrol di jejaring sosial, tak sedikitpun terlintas difikiranku
pada waktu itu bahwa hubungan pertemanan ini akan lebih dekat lagi.
Namun
entah mengapa, mungkin ini jalan Tuhan atau apa aku tak tau. Perlahan namun
pasti perasaan itu mulai tumbuh seiring berjalannya waktu dan rutinnya kami
mengobrol di jejaring sosial. Tidak dapat kupungkiri bahwa aku merasa nyaman
dan cocok saat mengobrol dengannya. Dion sosok yang humoris dan menyenangkan.
terlepas dari itu, nampaknya ia juga senang dan nyaman saat mengobrol denganku.
Dari situlah kami merasa saling membutuhkan.Tiap hari, tak lengkap rasanya jika
aku tak mengobrol dan tau keadaannya. begitupun dengannya, tak lengkap harinya
jika tak mengobrol dan mengetahui keadaanku. Mulanya kami hanya melakukan
obrolan ringan dan santai, namun entah mengapa obrolan itu berubah menjadi
semacam perhatian yang ia tujukan kepadaku dan aku tak tau, mungkin aku terbawa
suasana atau memang ini tindakan dari hati, tanpa kusadari aku juga memberikan
perhatian kepadanya.
Kami
telah saling mengenal dan saling memberi perhatian, maka tak lengkap rasanya
jika kami tak saling bertemu. Dalam sebuah obrolan Dion pun mengajakku bertemu
keesokan harinya disebuah warnet yang tak jauh dari rumah yang kebetulan milik
omnya sendiri. Akupun menerima ajakannya dan pertemuan pertama terjadi keesokan
harinya pada sore hari. Perasaan malu-malu dan salah tingkah sangat jelas
terlihat pada wajah masing-masing, namun kami sangat senang akhirnya dapat bertemu
dan bertatapan langsung tanpa dibatasi layar komputer seperti saat kami
mengobrol di jejaring sosial.
Sungguh
aku tak pernah menyangka hubungan kami akan terus berlanjut sampai sejauh ini.
Suatu malam Dion ingin mengantarku ke rumah salah satu teman kelasku di bangku
SMA dan aku mengiyakan keinginanya. Waktu itu perasaanku bercapur aduk antara
senang, takut, dan cemas. Jujur saat itulah pertama kali aku keluar bersama
lelaki pada malam hari dan mengendarai sebuah motor sambil berboncengan. Di
perjalanan hatiku makin tak karuan ketika Dion mulai menarik tanganku dan
mencoba melingkarkan ke bagian perutnya. Betapa ku merasa ingin menghentikan
waktu dan merasakan kenyamanan ini dalam waktu yang cukup lama. Setelah menemui
teman sekelasku di bangku SMA, perjalanan kami lanjutkan mengelilingi kota dan
menikmati suasana pada malam itu. Akhirnya malam itupun berakhir dengan
bahagia. Dan kami semakin rutin bertemu dihari-hari berikutnya.
Namun
aku bersumpah tidak ada maksud untuk egois atau ingin merebut Dion dari
kekasihnya. Tanpa kusadari ini semua terjadi begitu saja. Aku telah terbawa
perasaanku sehingga aku lupa bahwa ini semua tidak benar. Dion telah memiliki
kekasih dan hubungannya juga telah berjalan cukup lama. Saat itu aku tersadar
bahwa ini semua harus segera kuhentikan. Aku tak ingin terbawa perasaan lebih
dalam lagi. Aku tak ingin menyakiti wanita yang telah menjadi kekasihnya.
Bagaimanapun aku juga seorang wanita yang punya perasaan, tak dapat kubayangkan
jika aku berada pada posisi wanita itu. Memang rasanya kurang menyenangkan
berada pada posisiku saat itu. Sakit rasanya ketika melihat Dion bersama
kekasihnya, namun mau bagaimana lagi aku tak berhak cemburu ataupun protes
karena aku bukan siapa-siapanya.
Bukan
aku tak berusaha menjauh darinya tapi semakin aku ingin menghidar, semakin kuat
perasaan yang kurasakan bahwa aku menyayanginya. Sampai akhirnya aku menyerah,
aku tak bisa terus-menerus menyiksa perasaanku seperti ini dan akupun mulai
mencarinya lagi. Rupanya Dion juga mulai merasakan perasaan yang sama
terhadapku. Disuatu malam saat kami memulai ssebuah obrolan lagi di jejaring
sosial, Dion menyatakan perasaannya padaku lewat obrolan itu. Saat itu ia mulai
memanggilku dengan panggilan “Sayang”, namun aku tak membalas panggilan yang
sama terhadapnya karena aku sadar disisi lain ia telah memiliki seorang kekasih
sebelumnya dan pastilah akan hancur hati kekasihnya jika mengetahui semua ini.
Mulai saat itulah Dion makin rutin menghubungiku bukan hanya lewat jejaring
sosial tapi kami juga mulai rutin berhubungan melalui telepon seluler.
Seperti
kata pepatah, bagaimanapun kita menyembunyikan suatu kebusukan pasti akan
tercium juga. Hal yang selama ini selalu aku takutkan pun terjadi. Ternyata
kekasihnya mulai mencium adanya penghianatan yang dilakukan oleh Dion. Ia mulai
mengetahui hubungan kami dan akupun berusaha untuk kembali menjauhi Dion karena
aku merasa ini semua juga karena salahku. Tapi ternyata setelah mengetahui
adanya hubungan terlarang antara aku dan Dion, kekasih Dion pun akhirnya
memutuskan hubungannya dengan Dion. Betapa aku merasa bersalah atas semua yang
terjadi pada hubungan Dion dan kekasihnya namun aku juga tak dapat membohongi
perasaanku bahwa aku berharap dapat menjalani sebuah hubungan dengan status
yang jelas dengan Dion. Aku tak tau lagi harus bagaimana.
Aku
tau bahwa Dion sangat terpukul dengan kejadian itu. Bagaimanapun ia telah lama
menjalani hubungan bersama kekasihnya dan pastilah sulit untuk melupakan begitu
saja, ditambah lagi rasa sayang yang masih ada buat sang mantan. Setelah
kejadian itu aku sempat putus komunikasi dengan Dion selama beberapa waktu.
Perasaan bersalah juga masih terus menghantuiku dan aku juga mengetahui bahwa
Dion masih tetap berusaha untuk memperbaiki hubungan seperti semula dengan
kekasihnya. Maka musnahlah semua harapanku selama ini, tak ada lagi celah
buatku untuk bisa memiliki Dion. Tapi aku sadar ini semua pantas kudapatkan
atas apa yang telah kuperbuat selama ini. Hancurnya perasaanku tak sebanding
dengan apa yang dirasakan oleh kekasih Dion.
Setelah
beberapa lama aku tak mengetahui kabar dari Dion, suatu saat aku akhirnya
mengetahui bahwa Dion telah kembali lagi
bersama dengan sang kekasih. Perasaanku sangat terluka mengetahui semua itu
namun aku juga senang melihat mereka bisa bersama lagi. Dengan demikian
perasaan bersalahku bisa semakin berkurang.
Entah
mengapa, mungkin juga Dion merasa bersalah terhadapku karena merasa telah melukai
perasaanku, ia pun mulai mencariku kembali. Suatu hari, ia merencanakan sesuatu
dengan salah seorang temanku. Ia membuat sebuah rencana agar aku bisa bertemu
dengannya di rumah salah satu temanku itu. Tanpa rasa curiga sedikitpun, aku
datang menemui salah seorang temanku itu dirumahnya, namun tak ku sangka
setelah beberapa lama Dion pun akhirnya ada disana. Aku tak bisa menghindar
lagi, satu-satunya jalan adalah berbicara dengannya. Pada waktu itu kami
berbicara cukup serius, ia mengatakan bahwa ia masih tetap menyayangiku namun
mustahil untuk kami bisa bersama. Aku memaklumi perkataan Dion saat itu karena
memang tak ada jalan untuk kami bersama dikarenakan Dion telah memiliki kekasih
sbelumnya yang telah lama ia kenal yang tak mungkin ia tinggalkan begitu saja
demi aku yang hanya sosok baru dalam hidupnya dan aku menyadari semua itu.
Sejak saat itu hubungan kami mulai membaik lagi.
Namun
itu semua tak berlangsung lama. Beberapa hari setelah pertemuan itu, aku dan
Dion kembali putus komunikasi dan aku tak tau kabar dia lagi. Aku mulai putus
asa dan berusaha untuk menghapus perasaan ini, aku berusaha membuka lembaran
baru dalam perjalanan hidupku tanpa Dion lagi.
Beberapa
bulan kujalani kehidupan yang cukup berat dan tanpa disadari aku telah lulus
menempuh pendidikan di bangku SMA dan siap memulai pengalaman baru di bangku
perkuliahan. Saat aku mulai sibuk mengurusi kegiatan awal perkuliahan di salah
satu perguruan tinggi swasta, Dion kembali hadir dalam kehidupanku. Namun
berbeda dengan sebelumnya. Kini ia juga telah terdaftar sebagai Mahasiswa di
salah satu universitas negeri dan dengan status barunya yaitu seorang “single”.
Tak
bisa kupungkiri perasaan dulu yang pernah kurasakan pada Dion sampai saat ini
masih ada. Walau begitu tak lantas membuatku kembali berharap pada Dion karena
ketakutan akan kembali merasakan kekecewaan masih menghantuiku namun aku tetap
berhubungan baik dengan Dion. Pada saat itu Nampaknya hubungan Dion dengan
kekasihnya telah benar-benar berakhir dan Dion mulai gencar melakukan pendekatan
terhadapku.
Menjalani
masa PDKT selama beberapa minggu saja sudah banyak menguras batinku tapi jujur
aku sudah terlanjur menyayanginya sehingga aku bertahan dari semua cobaan itu.
Masa PDKT ini cukup tragis bagiku, dia memang punya perasaan yg sama terhadapku
tapi perasaan itu masih dibayang-bayangi oleh perasaan kepada sang mantan yang
sebelumnya cukup lama ia jalani bersama sehingga sulit untuk bisa tergantikan
oleh orang lain, termasuk aku, tapi setelah menjalani masa PDKT itu akhirnya Dion
memintaku menjadi kekasihnya. Saat itu aku tak langsung memberikan jawaban
kepada Dion, tapi melihat usaha dan kegigihannya untuk mendekatiku bebrapa
minggu ini, akhirnya seminggu kemudian aku menerima pernyataan cinta Dion dan
kami pun menanggalkan status baru kami pada hari itu.
Namun
bukan berarti masalah akan berakhir setelah dia telah menjadi kekasihku,
ternyata masalah yg lebih pelik telah menanti di depan mata. Butuh kekuatan
batin yg cukup besar menjalani hubungan ini. Kami menjalani hubungan ini namun
bayang- bayang sang mantan masih jelas terasa diantara kami bahkan setelah
beberapa bulan menjalani hubungan. Aku tersadar, nampaknya aku hanya dijadikan
pelarian sakit hati dan sulitnya melupakan sang mantan. Sungguh betapa hancur
hatiku setelah menyadari ini semua. Tanpa sepengetahuanku ternyata dia masih
sering menghubungi sang mantan dan berharap agar bisa bersama lagi tanpa
memikirkan perasaanku yang telah berada disisinya, menemaninya, dan setia
bersamanya selama beberapa bulan belakangan ini. Tapi itulah dahsyatnya
kekuatan cinta. Karena cinta yg begitu besar kepadanya aku bertahan walau hati
ini telah remuk dibuatnya. Aku bersabar dan terus bersabar menjalani hubungan
yang suram ini. Namun sekuat apapun aku bertahan, masalah dan cobaan tak
hentinya sampai disitu, bahkan masalah yg lebih besar dan menguras batin terus
menghampiriku.
Tujuh
bulan sudah aku menjalani hubungan bersama Dion, perjalanan yang masih singkat
tapi terasa seperti menjalani kisah suram bertahun-tahun lamanya yang menguras
seluruh kesabaranku terlebih lagi saat aku baru mengetahui jika sang mantan
sering membuat janji untuk bertemu dengan Dion tanpa sepengetahuanku. Mungkin
inilah kelebihan wanita berzodiak Aries, yaitu aku. Menurut kebanyakan orang,
wanita berzodiak dengan lambang domba itu memiliki feeling yang kuat.
Kenyataannya memang semua berawal dari firasatku yang tak tenang beberapa hari
itu tentang Dion.
Aku
merasa tidak bisa berlama-lama lagi memendam firasat ini yang membuat hatiku
tak pernah tenang sehingga akupun mengungkapkan kepada Dion tentang semua yang
kurasa mengganjal dalam hatiku. Mungkin Dion mulai mengerti apa yang kurasakan
dan mulai terbuka kepadaku tentang semua yang terjadi dan jawaban atas berbagai
tanda tanya dalam hatiku selama beberapa hari ini.
Betapa
aku tak berdaya setelah mendengar semua pengakuan Dion. Perasaanku sungguh
bercampur aduk tak karuan serasa ingin lenyap. Ternyata sang mantan memberikan
satu kesempatan kepada Dion untuk bisa kembali bersamanya lagi. Ia memberikan
kesempatan berfikir kepada Dion kurang lebih sebulan lamanya untuk mengambil
keputusan apakah Dion ingin memulai kembali hubungan dengannya atau ingin tetap
bersamaku. Memang tak bisa aku pungkiri betapa hancurnya hatiku saat itu, tapi
disisi lain akupun harus tegar menghadapi semua ini. Bagaimanapun rasa
bersalahku terhadap Dion dan sang mantan masih terbayang hingga saat ini. Aku
merasa sebagai penyebab utama perpisahan mereka dahulu. Disamping itu, aku
merasa Dion pun belum bisa menghilangkan rasa terhadap mantannya, terlebih lagi
sang mantan yang telah terang-terangan mengharapkan Dion bisa kembali padanya.
Dengan
berbagai pertimbangan itulah aku merasa harus mulai berusaha mengikhlaskan
Dion. Sebesar apapun rasa sayang dan cintaku pada Dion, tak akan ada gunanya bila rasa sayang dan cinta Dion hanya
untuk orang lain. Walau terasa berat, kukatakan pada Dion bahwa aku
mengikhlaskan ia untuk kembali bersama sang mantan karna bagaimanapun aku tak
bisa memaksakan hati dan perasaan seseorang. Selama mereka masih saling
memiliki rasa terhadap satu sama lain, dosalah aku jika harus jadi penghalang
mereka untuk bersama. Maka dengan menghela nafas panjang aku ikhlaskan mereka
untuk kembali bersama.
Namun
sungguh hal yang tak kuduga ketika Dion memutuskan untuk ingin tetap bersamaku
dan mencoba melupakan sang mantan yang sangat mengharapkan dirinya. Entah apa
yang ada difikiran Dion sehingga ia mengambil keputusan seperti itu. Tapi
apapun itu, rasa senang dan syukurku tak dapat kusembunyikan walaupun disisi
lain aku juga merasa iba kepada sang mantan. Bagaimanapun aku juga seorang
wanita. Aku bisa merasakan betapa hancur dan sakitnya perasaan jika berada pada
posisinya. Tapi aku berusaha mengambil sisi positif dari semua ini bahwa inilah
kehidupan. Manis dan pahitnya kisah adalah bagian dari perjalanan hidup. Baik
buruknya tergantung bagaimana tiap individu menyikapi semua ini. Namun
percayalah, Allah telah menyiapkan rencana indah buat kita.
Guys,
itulah sepenggal kisah cintaku bersama sang kekasih yang terus dibayangi oleh
sang mantan. Jangan kira setelah masalah itu semua akan berakhir bahagia dan
sang mantan tidak mungkin lagi akan kembali, aku yakin bayangannya akan terus
menghantui hubungan kami sampai kapanpun, percayalah.. Tapi semua itu ku
kembalikan lagi kepada Yang Kuasa, kupasrahkan jodoh dan takdirku kepadanya.
Sekuat apapun aku menyayangi dan mencintai kekasihku jika Allah tidak
menggariskan jodohku dengannya maka mustahil pula untuk bersama. Namun jika
jodohku memang adalah dirinya, maka sebesar apapun cobaan yang menerpa hubungan
kami, semua pasti akan ada jalan dan penyelesaiannya sehingga akan berakhir
dalam ikatan suci pernikahan yang di Ridhai Allah SWT, Insya Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar